.........
Demikianlah sebait syair lagu bertajuk "Yogjakarta" yang pernah sangat populer di masyarakat Karo. Tahun 70-an hingga 80-an, seluruh warga Karo dijamin pasti mehgenalnya.Kontemplasi penciptaannya untuk blantika musik tidak hanya mewarnai ranah seni suara di Tanah Karo, tetapi juga memberi inspirasi abadi sampai kini.
Tahun 1977, "The Giant Group" sempat tampil di panggung hiburan rakyat (PHR) Pancur Gading di Desa Sidomulyo Pasar I,Kecamatan Biru-biru sekira 4 kilometer dari kota kecil Delitua ke arah Selatan.Sejak sore, saya sudah bersiap untuk menyaksikan pertunjukannya, namun tiba-tiba sesorang menyapa dan menanyakan rencana ini.Singkatnya, dialog kami membuat keinginan saya makin memuncak di ubun - ubun sesegera mungkin menikmati sajian kelompok musik tersebut.
" Masa kau tonton musik keteng - keteng," ujar seseorang kepada saya, sembari menjelaskan kualitas musik yang bakal ditonton dengan memberi bandingan dengan alat musik tradisional Karo yakni keteng- keteng.
Tema lagu - lagu ini umumnya berkisar pada cinta, duka atau gembira dibalut dengan syair sederhana, komposisi dan alur musik yang mudah ditebak tata gramatika dan idiomnya.Tidak kalah uniknya susunan, struktur harmoni,ide garapan dan perhitungan nilai matematis dan struktur rancangan bangunannya.
Perspektif pecinta musik memang tidak mungkin bisa disamakan dalam menyimak sebuah karya seni musik.Bahwa, saat diklasifikasikan mirip " keteng - keteng " tidak perlu dibantah atau disetujui. Namun,dalam keterbatasan sarana dan prasarana instrumen musik, minimnya referensi dan usia masih terpaut 22 tahun maka sangat arif menyebut Jusup Sitepu,TIDAK "tading kune-kunena" ( tinggal kenangan ).
Seandainya, ia sezaman dengan gitaris mancanegara Michael Angelo Batio, maka tidak tertutup kemungkinan karakter bergitar mereka dimungkinkan rada mirip.Jusup Sitepu selalu bermain gitar tanpa menekan fret atau sering disebut open string.Teknik
Slide yang kondang sekarang ini sudah menjadi kebiasan pria kelahiran Desa Batukarang 25 Desember 1947, putra pasangan Mangsi Sitepu dan Tandangen br Perangin-angin tersebut.Teknik apa itu ?
Jusup Sitepu memencet snar gitar pada not tertentu dan begerak cepat dari fret satu ke fret lainnya. Selalu lincah dalam progres pemilihan nada, baik ke arah maju atau mundur pada neck gitarnya.Teknik ini dikenal dengan ascending slide atau descending slide.Kini, gitaris - gitaris dunia banyak memainkan teknik - teknik demikian guna pemilihan nada serta gaya manggung. Kemampuan ini semakin disempurnakan dengan talenta Jusup Sitepu dalam olah vokal sekaligus menciptakan lagu.
Tahun 90-an merupakan akhir karirnya Jusup Sitepu.Album berbahasa Indonesia yang merupakan terjemahan lagu ciptaannya mendapat tempat di hati penikmat musik termasuk di luar komunitasnya.Catatan yang ada,lagu bertajuk Ole-ole dan Magdalena diantara lagu yang kondang di dalam album itu.
Mengabadikan
La tading kune-kunena ( bukan tinggal kenangan ) melainkan terjadi revitalisasi semangat dan inspirasi pasca kepergian Sang Legend Jusup Sitepu.Pekan lalu, sejumlah tokoh di Batu Karang Tanah Karo menyatukan semangat untuk mendirikan monumen seniman sejati ini.
Memang, semangat yang sama pernah juga dikemas oleh para tokoh namun kali ini tampaknya lebih berkemajuan.Peran serta warga Karo dan panitia, mengerucut dalam mendukung suksesnya pembangunan secara terbuka dan dalam konteks kekeluargaan.Hal ini dibuktikan dengan ditayangkannya secara live acara sehari ini melalui media sosial untuk konsumsi masyarakat secara lokal dan global.
Sebagai asset budaya Karo,maka program pembangunan monumental tersebut selayaknya menyita perhatian seluruh elemen terkait.Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karo misalnya, rasanya tidak pas manakala hanya berperan sebatas dukungan formalitas.Atensi dukungan dengan anggaran dana, semestinya proyeksi yang boleh diusulkan ke DPRD Karo serta direalisasikan kelak.Sebab dari keberadaan monumen ini, nantinya menorehkan kesan abadi bahwa pemerintah kabupaten sangat empati dengan kehidupan seni budaya warganya.
Ole - ole
Inspirasi yang mencuat dari karya kreatif Jusup Sitepu juga sangat dirasakan sekelompok anak muda yang berkibar lewat bendera Mejile Family.Kelompok rapper kondang tersebut tergoda dengan tembang bertajuk Ole-ole dengan segala kemungkinannya.Bagi mereka dinamika nada , genre serta alternatif kemasan keberlanjutannya, menjadi pertimbangan untuk di-reproduksi.
Tengoklah di https://youtu.be/IyusDnsz8Z4. Anak - anak muda ini, Aldo,Yoka, Wisnu Bangun, Emady Bangun, Gean, Jeremy menggandeng vokalis perempuan terdepan versi tayangan Youtube, Intan Br Ginting.Garapan mereka, menawarkan sajian berbeda memperkokoh kekondangan Jusup Sitepu bersama suguhan materi yang berwarna.Bagi Wisnu Bangun DKK, karya seni tidak akan lapuk diterpa hujan dan tidak lekang tertimpa terik mentari, sebagaimana wujud Ole-ole sejak lahir sampai kini.Setidaknya kalangan milenial bakal memiliki referensi baru dalam memuaskan dahaga mereka dengan konsep musik serba lengkap ini.
Syair lagu Yogjakarta di bait, 'mulihlah kena bage nina rusur / mulih me aku ningku ngaloisa / tapi turang / gundari tading kune-kunena' akan berubah pada bagian akhir 'gundari (lanai) tading kune - kunena'. Karya Jusup Sitepu is never die ...(Jenda Bangun, budayawan dan jurnalis )




Tidak ada komentar:
Posting Komentar